Belajar dari Morowali

by - October 31, 2018

The long street of Desa Morowali

The view in front of my 'hostel'

Where I stay

Where we work


"Kalau ngana su besar, mau jadi apa nanti?"

"Penambang saja."

"He? Mau jadi papancuri tanah Morowali kah?"

"Tidak! Kita mau bekeng Morowali jadi ibukota! Telepon tidak susah! Nyanda gelap gulita juga setelah tengah malam!"

Aku melirik beberapa mobil gagah berukuran besar yang belakangan ku ketahui bernama Mitsubishi Triton. Lihat! Namanya saja sudah keren, apalagi kalau mobil gagak itu berjalan menyusuri jalanan desa yang sekarang sudah beraspal -beda dengan jalanan yang Mamak ceritakan saat dia masih kecil dulu.

Mobil gagah itu memasuki sebuah istana. Istananya besar dan sama gagahnya dengan sang mobil! Saat gerbang terbuka, kulihat ada beberapa kedai yang orang Jakarta sering sebut warung. Ah, mahal sekali makanan di sana! Ada satu biskuit rasa cokelat seharga tiga puluh ribu yang sudah bisa membayar perlengkapan sekolahku sampai tahun depan. Mamak bisa menghukumku memungut tahi ayam kalau aku keras kepala ingin membelinya.

Baik,

Mari sejenak lupakan kegagahan mobil dan gedung dan biskuit renyah yang kuceritakan barusan. Sebab sekarang, matahari sudah ingin berpamitan pulang.

Suara juga mengaum nyaring dari mercusuar pusat desa.

Apa itu tandanya?

Ah, kesukaanku! Lampu sudah menyala! Sekarang, pasti sudah lewat pukul 5.

Morowali-ku meninggalkan gelap dan kembali menjadi terang.

**

Tenang, yang di atas itu fiksi atau kutipan kecil dari cerita pendek yang gue tulis untuk sebuah media beberapa minggu lalu. Judulnya "Lewat Pukul 5". Sayangnya, setelah beberapa hari lewat dan batas pengumpulan, gue memutuskan untuk membiarkannya tinggal dalam dokumen pribadi di laptop dan menikmatinya sendiri.

Gue hanya membiarkan cerita ini dibaca oleh diri gue sendiri untuk mengingatkan diri, kalau rasa-rasanya selama gue hidup, banyak yang belum gue syukuri. 

Jadi selamat datang di cerita penghujung bulan pembuka hujan, Oktober. Dan selamat belajar.

Belajar dari Morowali.

Perjalanan gue dimulai dari sebuah tugas Penelitian Tambang Nikel Umum di sebuah desa kecil yang berlokasi di Sulawesi Tengah. Belum sampai aja, gue udah merasa lelah. Gimana enggak? Diawali naik pesawat ke Kendari, gue harus menempuh perjalanan kurang lebih 6-8 jam ke desa tersebut naik mobil Avanza. Ya, bukan mobil trek, atau mobil gunung biasa, tapi mobil Avanza yang harus menempuh jalanan berkelok-kelok, penuh lumpur, melewati hutan, dan beberapa usaha tambang liar lainnya yang tidak bisa gue sebutkan spesifik di sini.

Ekspektasi gue tinggi sejak di Jakarta. Gue akan diajak pergi ke sebuah desa yang asri, indah, segar, dan bisa melepas penat dan keluh kesah gue selama di Jakarta. Selebihnya, gue akan menginap selama satu bulan di penginapan wilayah pertambangan yang biasanya terjaga, terawat, bersih, dan enak.

Enak dalam konteks gue di sini adalah kasur empuk, AC atau minimal kipas angin, air mandi yang bersih, kamar mandi yang bersih, pokoknya nyaman.

Nyatanya, ketika sampai, ekspektasi gue runtuh dan kalimat pertama yang gue ucapkan pada rekan perjalanan gue saat itu adalah, "Let's make it 2 weeks. Gue gak kuat lama-lama di sini."

Ego gue lantas tumbuh semakin kuat setelah satu hari tidur dengan penuh rasa tertekan. Nyamuk beterbangan, kasur yang penuh debu dan kempes karena sudah terlalu lama tidak digunakan sehingga gue harus melapisinya dengan jas hujan gue sendiri supaya gak gatal, dan kamar mandi yang airnya harus menyatu dengan semen karena bak airnya yang keruh dan harus ditimba dulu.

Namun dari semua faktor ketertekanan gue di atas, satu hal yang paling mengganggu gue adalah listrik yang dipadamkan di seluruh desa menjelang pukul 12 malam. Suasananya gelap gulita, mencekam, seram, belum lagi ditambah dengan suara anjing menggonggong dan ayam berkokok yang saling bersahutan.

Keesokan hari gue bertanya pada pemilik rumah -ya, gue dan rekan tinggal sementara di salah satu rumah warga yang menurut seisi desa sebagai yang "Terbaik".

"Memang kalau malam lampu mati ya, Bu?"
"Ya, selalu begitu. Baru dinyalakan lagi jam 5 ke atas."

Lagi-lagi mental breakdown.

Sebelum ke site -area penambangan mulai dari penggalian sampai pengumpulan ke stockpile dan masuk laboratorium, gue dan rekan harus bangun jam 5 pagi karena KTT (Kepala Teknik Tambang) kami akan menjemput sekitar jam 6 pagi. Dengan keadaan tanpa listrik, gue harus mandi menggunakan head lamp atau sinar flash dari handphone. Bahkan karena takut, berulang kali gue dan rekan harus memanggil nama satu sama lain supaya kita merasa gak sendirian.

From day 1 to 7, there was no day without complaining. Ada satu hari di mana gue harus jalan ke bukit yang jauhnya 4 kilometer untuk mendapat sinyal dan telepon Mama hanya untuk menangis dan minta cepat pulang. Ada satu hari lain di mana gue harus jalan ke bukit yang sama untuk menghubungi sahabat gue dan sama-sama bertukar keluhan karena dia merasakan hal yang sama. Bedanya, dia sedang bertugas di Sumatra, dan gue bertugas di Sulawesi.

Sampai pada suatu hari, satu jam sebelum jam 5 datang dan listrik menyala, gue bertukar cerita dengan anak laki-laki dari pemilik rumah. Gak terlalu banyak yang harus gue kerjakan di site sehingga gue bisa pulang lebih cepat dan mengobrol sambil makan biskuit Tango (ngomong-ngomong harga biskuit Tango sekotak di sana 30 ribu, rasanya mau teriak).

And there is this one line of his words that I always remember till now.

"Setiap menjelang sore, kita senang. Lampu su manyala. Nyanda gelap. Torang samua bisa baku dapa deng tatangga. Terang samua."

Sepenting itu harga sebuah lampu yang menyala.
Sepenting itu harga dari sebuah menunggu.

Di saat gue dengan gak tau dirinya terus mengeluh sampai nangis karena ingin pulang, gak betah dengan suasana dan segala keterbatasan di sana mereka justru menjalani waktu seumur hidup dengan segala keterbatasan itu.

Lalu di hari ke-8 sampai hari terakhir, gue menjalaninya dengan lebih membiasakan diri. Gue bisa tidur nyenyak dengan gonggongan anjing dan suara kokok ayam yang bersahutan. Gue bisa lebih menghargai gelap gulita. Gue gak bergumam pada diri sendiri setiap mandi karena harus bawa-bawa head lamp. Gue gak protes karena setiap hari harus makan ikan kering, indomie, dan sayur kangkung yang menu-nya gak pernah berubah dari hari pertama gue menginjakkan kaki di Morowali.

Dan ya, gue lebih excited dan norak setiap melihat jarum jam pendek sudah hampir melewati angka 5. Sama seperti anak pemilik rumah tempat gue menginap karena dia bisa mampir ke rumah Kepala Desa untuk nonton sinetron kesukaannya di RCTI.

Sepulangnya gue dari Morowali, gue belum berubah-berubah amat. Gue masih sering mengeluh karena hal-hal sepele. Gue sering marah-marah sendiri karena keterbatasan. Gue sering gak menerima diri. Then, I know it takes a long way, a long time for me to be on that level of 'memaklumi' dan 'bersyukur'.

Bagi gue, pokoknya bersyukur itu susah. Karena ratusan kalipun gue mengingatkan diri untuk bersyukur, ada masa di mana secara gak sengaja gue jadi orang paling gak bersyukur di dunia.

Tapi Morowali buat gue sedikit belajar.

Sedikit yang mungkin kelak akan berdampak banyak untuk gue.

Kalau memang, bersyukur itu susah.

Bersyukur itu gak gampang.

But if you always remind yourself to be grateful, to be thankful, you will get there.

We are almost there.

Ayo berjuang lagi, untuk lebih bersyukur dan lebih baik.

Good luck for me, for you, and for all of us!


You May Also Like

10 comments

  1. Sering kali lupa bersyukur,padahal banyak hal yg secara sadar atau gak patut kita syukuri. makasih untuk selalu memberikan cerita" bahwa kita masih bs bersyukur. Meskipun kebanyakan sering lupa bersyukur. God bless Val.. 😇🙏💙💙

    ReplyDelete
  2. I was whining the whole day for how stressful I am of working and how tired I was in taking care all of these. Your story gave me a huge knock. Thank you for sharing this relatable and amazing story..

    ReplyDelete
  3. Sering lupa bersyukur sama hal hal sepele yang kita gak sadari.. Itu sepele,memang,tapi bagi sebagian orang itu hal yang luar biasa.

    ReplyDelete
  4. Kapan-kapan jalan ke kalimanatan kak , banyak juga disini tempat yang keadaannya hampir mirip hehe bukannya membedakan atau bagimana mungkin sekedar menambah pengalaman . Tapi tetep tq buat bacaan ini karna reaksi aku langsung : eeh iya betul nih . Terimakasih sudh mengingatkan��

    ReplyDelete
  5. Kalo kata kiyaiku kita itu tidak pernah merasa mempunyai hidung kalo kita tidak pilek.. yah ibaratnya kita tidak pernah bersyukur atas nikmat yang Tuhan berikan dan tidak sadar atas nikmat yang Tuhan berikan sebelum nikmat tersebut dicabut dari kita..��

    ReplyDelete
  6. Aku pengeeeeeen banget kak ngerasain kaya kakak, tinggal sementara di daerah pelosok. Tujuanya biar aku bisa lebih bersyukur, biar lebih menghargai apa yang aku punya saat ini

    ReplyDelete
  7. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  8. thankyou, kak. selalu memberi positive think ke orang2 kayak aku. love!

    ReplyDelete